FORKAMMI

Forum Komunikasi Musholla Masjid Cikarang Raya

RUANG IKLAN

MENGUKUR EFEKTIFITAS FATWA, MENUNGGU HADIRNYA NEGARA

No Comments Share:

Tulisan ini sudah saya buat 1 minggu pasca Fatwa MUI terkait “Endorsement” MUI atas persoalan Covid 19 ramai beredar. Saya mendapat sinyal dari beberapa guru /ulama agar di hold. Khawatir men “down grade” MUI.

Validitas tulisan ringan ini lumayan terasa dan teruji saat kita berhadapan dengan masyarakat Indonesia yang super ngeyel dan tidak taat norma saat ini. Berikut tulisannya,

Sebagai praktisi hukum intuisi dan naluri pembela saya bertanya tanya, atas nama nurani keadilan dan hak asasi warga negara.
Mungkin saya terlalu melo, pagi ini saya ingin menulis di catatan motivasi spiritual harian saya, berjudul Air Mata Di Tengah Hilangnya Wajah Sobat2 Saya di barisan Shalat Berjama’ah.

Ekspresi saya saja terhadap kesedihan sebagai muslim, Mesjid Sepi tetapi tempat umum kerumunan masih ramai dan berjibun😭😭.

Sebagai ummat saya sami’na wa’atona pada ulama dan umaro
Ada kenyataan yang harus kita hadapi tapi ada logika filosofis yang membuat saya bertanya. Tentu saja Manusiawi!

Mungkin karena panggilan jiwa saya melawan putusan hakim hakim arogan yang membuat putusan berdasarkan request lawan lawan saya saat berperkara di pengadilan.

Point utama saya di sini👉 Pertanyaan besar saya, bagaimana mungkin sebuah aturan yang diberlakukan secara universal di tengah “extra ordinary condition” tidak di ambil oleh negara yang bersifat inperaive melalui sebuah produk hukum oleh negara atau dengan pertanyaan awam kok hanya melalui fatwa.

Pada negara yang menjalankan konsep syariah daulah maka para ulil amri bersekutu dengan ulama ulama soleh lalu sangat mudah di ikuti dengan baik oleh ummat.
Itu yang terjadi di beberapa tempat lain. Maka kata sami’na wa’atona itu sudah ditempatkan secara benar. Cara pandang ini juga saya lihat dipegang oleh UAS karena beliau berkiblat ke salah satu daulah di timur tengah.

Di negara yang “berkonsep leberal” tentu berbeda, kapan ulama di butuhkan kapan ulama “kejar kejar” dan di buang.

Dengan bahasa lain ulama hanya akan dipergunakan sebagai alat. Kok? Ya itu tadi alat itu kapan di pakai kapan juga tidak dipakai. Seperti kita punya dongkrak di mobil.
Logika inilah yang melahirkan pertanyaan kritis bagaimana kualitas hasil kerjanya jika kedudukan ulama sebagai “alat”.
Menggunakan terminologi “alat” bukan bermaksud mendown grade ulama apalagi menghinakannya karena kita juga tidak mendapat informasi yang CUKUP mana ulama milik penguasa mana ilmu milik ummat. Karena para ulama diposikan sebagai makhluk asing yang mengancam kepentingan kekuasaan.

Para tabi’in dan ulama besar yang berakhir ditiang gantung itu adalah ulama yang mencintai dan menegakan prinsip kebenaran dan ber FATWA atas nama kepentingan ummat .

Maka kepada kita di ceritakan tentang Nabi Zakaria, Nabi Nuh yang tidak mau bersekutu pada kebathilan. Nabi Zakaria berpegang pada prinsip yang sdh jelas dan tegas bahwa menikahi saudara yang sudah ditetapkan batasannya adalah larangan kitab suci. Penguasa ingin melanggarnya.

Dua hari ini saya ditanya bagaimana penerapan hadist tentang to’un itu? Saya bukan Kiyai dan ahli hadist. Pragmatis saya bilang, Simalakama.

Sebagai orang yang belajar hukum saya di ajarkan asas hukum. Bagi saya cara memahami hadist tentang toun itu secara asas adalah lex spesialis. Maka sejalan dengan praktek isolasi wilayah.
Logika cara penerapan hukum dan kaidah ushul fiqih dalam aturan turunannya bagi saya kurang sependapat. Untuk menguji keraguan ini saya telepon ahli hadist yang saya kenal.
Enaknya memahami hukum dalam islam ada tools penguji dilakukan secara mandiri bisa jika kita sudah paham setidaknya kita tidak harus membuat majelis tarjih.

Lalu kita kenal macam macam tools itu, spt. naskh wal mansuuk dalam kajian ulumul quran, memahami asbabunnuzul untuk meneliti penerapan sebuah ayat, asbabulwurud dan ilmu mustolhahulhadist dalam “menguji” hadist, ushul fiqih dalam pelaksanaan fiqih prioritas.

Bukankah kita juga di ajarkan,
alhukmu yaduru ma’al illati wujudan wa adaman
hukum berlaku karena ada illat, atau penyebabnya.

Dengan demikian ummat sesungguhnya lebih tenang menghadapi dinamika termasuk pada kondisi darurat.

Islam itu melarang kita sikap berlebihan dalam beragama dalam soal apapun malah makan dan minun saja tidak boleh berlebihan.
MAKA Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam melarang kita mengkultuskannya secara membabi buta tapi mencukupkan diri dengan ber ittiba.

Berittiba bukan berarti menganggap sepele sahabat tabiin dan para ulama justru dari beliau beliau kita memahami dengan baik cara berittiba.

Hanya saja di zaman sekarang kita tak tahu mana ahli ilmu mana ahli ibadah. Ahli ibadah dikultus menjadi ahli ilmu. Terjadilah sekte sekte.
Semua yang saya uraikan di atas adalah jendela buat ummat agar tidak berlebihan di dalam beragama ini.
Lalu bagaimana ummat terlanjur taklid dengan fatwa. Justru harus. Yang tak boleh kan taklid buta.

Jika kepolisian mengancam pidana penyelenggara pesta pernikahan sebagai upaya pencegahan corona, mantaplah itu.
Karena itu area terbuka yang sangat sulit kita kontrol orang dari berbagai tempat dan beraneka ragam habit maka itu menjadi rawan.

Saya berpendapat untuk lingkungan green area dengan mukimin tetap seharusnya tidak ada udzur untuk meniadakan shalat berjamaah maupun shalat jumat.

Lalu mulai orang berspekulasi dan menduga duga, lalu ada asumsi statement, masjd sepi ada yang bertepuk tangan, ada penumpang gelap?
Saya tidak mau berspekulasi saya hanya mau mengingatkan Dalam Beragama Ini kita butuh Kecerdasan menilai dan menangkap fenomena dan dinamika agar kita tidak masuk pada lobang besar secara berjamaah lalu kita terkubur lalu yang tersisa adalah musuh musuh kita.

Apakah ada ketidak indpendenan fatwa? Sebagai lawyer saya melihatnya ada ! Dimana ? Itu dia dalam konsep legal drafting produk hukum itu tidak ada aturan peralihan yang berfungsi sebagai lex spesialis.

Untuk menjaga dan meraih Rahmat dan Pertolongan Allah SWT ditengah musibah bala dan bencana ini maka di dalam asas lex spesialist itu kita bisa raih.

Apa artinya ? Untuk green area biarkan sebagian ummat bermunajat pada Rabbnya disitu pintu pintu keselamatan, Masjid.

Dari Masjid Nabawi Imam Malik Rahimahullah mengirim surat kepada Khalifah Abu Abdillah Ibn Umar RA sebagai balasan atas Surat Khalifah yang meminta sang Imam agar meninggalkan ummat dan kegiatan belajar mengajar di Masjid Nabawi. Beliau menolak karena menjaga aqidah dan ruhiyah ummat penting sitengah situasi itu.
Bagi saya dan kita semua barangkali adalah penting merespon peristiwa dengan menempatkan ilmu sebagai timbangan.

Kita sering mendengar ada orang musibah bencana, yang mengurisi panik maka terjadi kecelakan, yang terkena musibah selamat yang mengurusi malah duluan dimakamkan. Ini namanya proplem psikologis.

Saya tidak ingin menyalahkan siapapun hanya saja prihatin.
Negara kehilangan wibawa.

Setidaknya dalam law enforcement. Mengamati migrasi warga negara dari dan kesuatu tempat, tempat tempat yang berpotensi ada paparan adalah fakta yang kita lihat.

Saat ini semua terkesan saling menyalahkan. Yang anti lock down , anti pembatasan, anti karantina wilayah dan anti kerumunan lainnya.
Pokoknya heboh dan juga dibuat heboh sementara yang terpapar dan meninggal ada saja.

Kenapa ramai? Ya wajar. Wajar kita tidak memiliki leader ditengah situasi emergency. Leader itu adalah negara.

Pesan kuat tulisan ini adalah, Pertama saya kwatir ummat ini nggak ngeh ada penumpang gelap di balik fatwa ini sehingga masjid masjid di tempat yang nyata nyata aman tetap “dibuat sepi”.

Kedua ummat ini juga nggak ngeh bahwa pintu pintu keberkahan mereka tutup ( masjid dan shalat berjamaahnya) sementara logika akalnya terus dia dewakan.

Terakhir kita sedang menunggu agar mata rantai migrasi virus ini terputus. Menunggu keajaiban? Bukan! Menunggu korban tambah? Mungkin dan semoga tidak! Yang jelas kita menunggu negara hadir.

Biarkan para ulama hadir membantu dalam doanya dan saya pribadi ada di dalam gerbong ini dan ulama bukan sebagai public policy maker untuk atas nama negara.

Dapat in box pict terlampir sebagai pelengkap logika kita.

Salam Hangat NKRI semoga engkau baik baik saja.
Salam Fastabiqul Khairaat

Salahudin Gaffar Ketua Tim Advokasi Masjid dan Mushalla Bekasi Raya

Previous Article

Waktu dan Kemerdekaan Dalam Kehidupan Manusia

Next Article

Pancasila Islam Tulen !

Artikel lain

Open chat
1
Assalamu'alaikum, silahkan chat disini