Home Tulisan Lepas Ustad Adih Amin Pembina Forkammi: Inspirasi Perjalanan (49) Al Qur’an

Ustad Adih Amin Pembina Forkammi: Inspirasi Perjalanan (49) Al Qur’an

by admin

Abu Thalhah al-anshari namanya, hidupnya membersamai Rasulullah dalam dakwah dan perjuangannya hingga Rasulullah wafat, membersamai Abu Bakar As-Shiddiq hingga Abu Bakar wafat, membersamai Umar Bin Khattab hingga Umar Bin Khattab juga wafat. Abu Talhah tetap istiqomah Bersama islam dan kaum muslimin sampai usia senja.

Pada masa kepemimpinan Usman Bin Affan, Abu Thalhah juga ikut berperang Bersama kafilah muslimin, walau dilarang oleh anak-anaknya lantaran sudah tua, namun beliau bersikukuh ingin ikut. Ternyata beliau membaca ayat 41 surat attaubah dan beliau merasa terpanggil walau diusia tua karena ayat tersebut berlaku untuk orang muda dan juga orang tua, hingga akhirnya beliau syahid diatas kapal ditengah lautan.


Keterpanggilannya oleh ayatlah yang menjadikan beliau istiqomah dan teguh bersama barisan orang-orang soleh hingga akhir hayat.

Isi al-quran adalah gambaran tentang dialog Allah kepada hambaNya, yang beriman maupun yang mengingkarinya. Dialog yang menjadikan suasana jiwa orang beriman merasakan getaran al-quran. Saat membaca ayat dengan panggilan “wahai orang-orang yang beriman” dan ada kata perintah setelah itu, maka ia merasakan sedang dipanggil untuk sebuah misi, melakukan apa yang harus dilakukan tanpa harus ada keraguan kalau itu diperuntukkan kepadanya, demikian juga Ketika ada kata fasiq atau munafiq, dia merasa sebagai peringatan keras agar tidak termasuk didalamnya dan berusaha untuk menjauh. Dan ini yang membuat seorang Abu Thalhah al-anshari sebagai orang yang telah mampu berinteraksi dengan al-quran, berbekal ilmu dan keyakinan hingga membuat harum dan penuh makna perjalanan hidupnya.

Belajar membaca dengan benar sesuai kaidah tajwid, membaca tafsir dan memahami sebab turunnya ayat serta mengamalkannya sepenuh hati dan sekuat kemampuan diri adalah bagian yang tidak terpisahkan dari anak tangga menuju target “keterpanggilan” dan merasakan getaran ayat, dan ini bisa dicapai siapa saja selagi dia memiliki kemauan. Menghafal tentu sangat perlu karena itu adalah cara untuk melazimkan lisan dan membasahinya dengan terus mengharap pahala dan keberkahan dalam hidup. Bahkan Syeikh Ysusf Al-Qhardhawy dalam kitabnya “bagaimana berinterkasi dengan al-qur’an” menjelaskan dengan lengkap Langkah-langkahnya

Al-quran, saat membacanya dengan perlahan dan mencoba memahami artinya, akan muncul inspirasi yang manghantarkan kita semakin yakin akan apa yang ada didalamnya. Mungkin itu anugrah dari Allah kepada mereka yang berusaha untuk membersamai al-qur’an dengan membaca, menghafal, memahami, mengamalkan dan menyebarkan isi dan dakwahnya kepada siapapun. Imam As-sya’by mengajak kita dengan ungkapan “bacalah, bacalah, bacalah, niscaya Allah akan bukakan tabir hikmah yang belum engkau ketahui”

Akhirnya, semoga Ramadhan kali ini semakin mendekatkan kita kepada al-quran agar kita merasakan getaran ayat dan merasakan keterpanggilan itu, hingga hidup kita diselimuti keberkahan dan kebaikan serta bimbingan wahyu menuju jalan kebenaran, karena kebenaran, keberkahan dan kebaikan hanya ada padaNya, Allah Rabbul izzah, yang dariNyalah al-quran turun. Selamat menikmati tilawah al-quran.

You may also like